Monday, 9 March 2015

penyebab gigi sensitif

Menurut survei Lembaga Riset Synovate dan Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat, Fakultas Kedokteran Gigi UNPAD menemukan, 65% orang Indonesia pernah mengalami gigi sensitif. Pengetahuan masyarakat mengenai gangguan gigi sensitif masih sangat minim. Alasan yang pada akhirnya membuat mereka sering mengabaikan rasa ngilu akibat gigi sensitif. 


Apa sebenarnya gigi sensitif? Gigi sensitif merupakan suatu gangguan kesehatan di mana terjadi kerusakan pada lapisan luar (email) gigi, dan mengakibatkan lapisan tengah gigi (dentin) menjadi terbuka. Ketika hal itu terjadi, rangsangan dari makanan atau minuman yang terlalu manis, asam, dingin atau panas dapat langsung mengenai saraf gigi. “Akibatnya, Anda akan merasakan ngilu yang luar biasa tajam walaupun hanya sesaat,” jelas drg. Hari Sunarto, Sp. Perio (K)dari Fakultas Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Penyebabnya:
  • Kesalahan menyikat gigi. Sejatinya, lapisan dentin gigi terlindungi oleh email dan gusi. Namun karena alasan tertentu, dentin menjadi terekspos. Kebanyakan pasien gigi sensitif menggosok terlalu keras ketika menyikat gigi mereka. Tekanan pada gigi yang terlalu besar –ditambah bulu sikat yang tergolong jenis kasar (hard) – akan membuat gigi terasa seperti digosok dengan ampelas. Akhirnya, email gigi tergerus dan dentin menjadi rentan terhadap rangsangan dari luar. Gigi yang lebih menonjol ke depan –seperti gigi taring dan geraham kecil– merupakan daerah yang lebih rentan terkenan gigi sensitif. “Hal itu mungkin terjadi karena gigi tersebut sering mendapatkan tekanan yang lebih besar ketika menyikat gigi,” tambah drg.Hari.  
  • Kebersihan mulut yang tidak terjaga dengan baik. Pada orang dengan higienitas buruk, terjadi penumpukan plak dari sisa makanan di sela gigi yang tidak dibersihkan. Bakteri pada plak tersebut menyebabkan radang gusi yang mengakibatkan terbukanya dentin gigi. Akibatnya gigi menjadi sensitif. 
  • Prosedur pembersihan karang gigi serta perawatan gusi diyakini turut berperan. Bahkan, pada satu penelitian terungkap kalau 55-75% pasien mengalami gigi sensitif saat melakukan perawatan pemutihan gigi. 
  • Faktor umur pun bisa jadi salah satu penyebabnya, dimana pada orang-orang berusia lanjut umum terjadi penurunan gusi akibat penyusutan tulang yang membentuk rongga mulut. Selain itu, pada beberapa orang, kebiasaan buruk menggertak-gertakkan gigi (bruxism) saat sedang diam atau tidur dapat juga mengikis email gigi secara perlahan-lahan. 
Selain kenikmatan makan yang terganggu, gigi sensitif mungkin tidak akan berakibat fatal pada kesehatan . “Tapi jika tidak dirawat, gigi tersebut bisa rapuh, bahkan sarafnya mati,” kata drg. Hari. Penelitian terkini mengungkapkan, 88% ahli gigi yakin bahwa gigi sensitif bisa memengaruhi kualitas hidup pasien. 

No comments:

Post a Comment

Text Widget

Powered by Blogger.